Debus Banten Warnai Semarak HUT RI ke-81 di Pondok Melati, Pemuda Hidupkan Warisan Budaya Nusantara

Avatar photo

Tim Halo Bekasi - Admin

, 30 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Debus Banten Warnai Semarak HUT RI ke-81 di Pondok Melati, Pemuda Hidupkan Warisan Budaya Nusantara

Photo dok, HalloBekasi com

Bekasi,HaloBekasi.com – Suasana semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, semakin meriah dengan penampilan atraksi seni budaya Debus khas Banten, Minggu (30/8/2026).

Atraksi yang digelar di Aula Kecamatan Pondok Melati tersebut menjadi pembuka rangkaian puncak perayaan HUT ke-81 RI. Sejumlah pemuda yang tergabung dalam BPKB Banten menampilkan berbagai kemampuan dan ketangkasan dalam pertunjukan seni tradisional yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Penampilan tersebut diprakarsai oleh anggota BPKB Banten dari wilayah Pondok Gede dan Pondok Melati, Kota Bekasi. Atraksi Debus tidak hanya mengundang perhatian masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kembali salah satu warisan seni tradisional Banten kepada generasi muda.

 

Debus dikenal sebagai kesenian tradisional yang memadukan unsur pencak silat, seni pertunjukan, ketangkasan, serta nilai-nilai spiritual. Dalam perkembangannya, kesenian tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Banten.

Ketua DPC 5 BPKB Banten, Antoni Bule, mengatakan Debus selama ini dikenal masyarakat melalui berbagai atraksi yang menguji keberanian dan ketahanan tubuh para pemain.

"Debus memang dikenal dengan atraksi yang menegangkan. Ada yang menggunakan golok, benda tajam, permainan api dan berbagai bentuk ketangkasan lainnya. Namun, Debus bukan hanya soal keberanian atau kekuatan fisik," ujar Antoni.

Menurut dia, di balik atraksi yang ditampilkan terdapat nilai sejarah, budaya dan spiritual yang menjadi bagian dari perjalanan panjang kesenian tersebut.

 

"Debus merupakan warisan budaya yang memiliki nilai dan sejarah. Karena itu, kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa kesenian tradisional ini harus terus dijaga dan dilestarikan," katanya.

Debus diyakini telah berkembang di Banten sejak sekitar abad ke-16. Dalam perjalanan sejarahnya, kesenian tersebut juga menjadi salah satu media untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.

Dalam sejumlah pertunjukan, atraksi Debus turut diiringi doa dan bacaan bernuansa keagamaan. Nilai spiritual tersebut menjadi salah satu bagian yang melekat dalam perkembangan kesenian tradisional Banten hingga saat ini.

Seiring perkembangan zaman, Debus tetap hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari acara adat, pesta pernikahan, khitanan, peringatan hari besar keagamaan, perayaan kemerdekaan, hingga penyambutan tamu pada berbagai kegiatan.

Sementara itu, Camat Pondok Melati Cecep Miftha mengapresiasi sinergi antara pemerintah kecamatan dan BPKB Banten dalam menghadirkan pertunjukan seni budaya tersebut sebagai bagian dari semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menurut dia, keberadaan kesenian tradisional seperti Debus menjadi bukti bahwa warisan budaya masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.

"Pelestarian budaya menjadi penting, terutama agar generasi muda dapat mengenal sejarah, nilai dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas bangsa," ujarnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, pemuda dan seluruh elemen masyarakat dapat terus terjalin dalam berbagai kegiatan budaya di Kota Bekasi.

Melalui kegiatan tersebut, Debus diharapkan tidak hanya dikenal sebagai atraksi yang menegangkan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memadukan seni, keberanian, pencak silat dan nilai spiritual.

Penampilan Debus oleh para pemuda BPKB Banten PAC Pondok Gede dan Pondok Melati pun menjadi salah satu warna tersendiri dalam semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Pondok Melati.

Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, pertunjukan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga budaya merupakan bagian dari upaya merawat identitas bangsa dan mewariskan kekayaan Nusantara kepada generasi mendatang. (Egi)