Warga Lampung Timur Minta Sumur Bor di Titik Rawan Karhutla, Tim Seskoad Tampung Aspirasi

Avatar photo

Tim Halo Bekasi - Admin

, 04 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Warga Lampung Timur Minta Sumur Bor di Titik Rawan Karhutla, Tim Seskoad Tampung Aspirasi

Photo dok, HalloBekasi com

Lampung Timur,HaloBekasi.com — Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Lampung Timur, Lampung, tidak hanya membutuhkan kesiapan aparat, tetapi juga dukungan sarana pemadaman di tingkat desa.

Hal itu menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan masyarakat kepada Tim Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) saat menggelar dialog langsung dengan warga di sejumlah wilayah terdampak karhutla.

Sebanyak 14 Perwira Siswa (Pasis) Seskoad Dikreg LXIV diterjunkan ke Lampung Timur sebagai bagian dari kegiatan KKL yang berlangsung di Provinsi Lampung. Tim tersebut dipimpin Kolonel Inf. Hasroel Thamim.

Kegiatan KKL di Lampung berlangsung selama 10 hari, mulai 28 Agustus hingga 6 September 2026. Selain Lampung, kegiatan serupa juga dilaksanakan di sejumlah wilayah yang menjadi perhatian terkait persoalan karhutla, yakni Kepulauan Riau dan Sumatera Selatan.

 

Audiensi dilakukan dengan sejumlah pihak, mulai dari Bupati Lampung Timur, Polres Lampung Timur,

Di Lampung, kegiatan KKL tersebar di lima wilayah, yaitu Kota Metro, Lampung Timur, Lampung Barat, Way Kanan, dan Tanggamus.

Khusus di Lampung Timur, kegiatan dibagi dalam dua agenda. Lima hari pertama digunakan untuk KKL Wilayah Pertahanan (Wilhan) di Kodim 0429/Lampung Timur. Lima hari selanjutnya diarahkan pada KKL Pembinaan Satuan (Binsat) di Yonif TP 943/DPC sekaligus diintegrasikan dengan penyuluhan mengenai karhutla.

Dalam pelaksanaannya, para Pasis tidak hanya melakukan koordinasi dengan unsur pemerintah dan aparat keamanan. Mereka juga mendatangi masyarakat untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai kondisi di lapangan.

Audiensi dilakukan dengan sejumlah pihak, mulai dari Bupati Lampung Timur, Polres Lampung Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga unsur teknis lainnya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, luas wilayah yang terdampak karhutla di Lampung Timur mencapai sekitar 1.721,23 hektare.

Wilayah terdampak antara lain Desa Braja Harjo Sari, Braja Kencana, Rantau Jaya, Karanganyar, Toto Projo, Rantau Jaya Udik, Tambah Dadi, dan Labuhan Ratu.

 

Di tengah upaya pemetaan tersebut, Tim Seskoad kemudian menggelar dialog dua arah dengan masyarakat di sekitar Koramil 429-05/Sukadana dan Desa Rantau Jaya Udik 2.

Tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, komunitas lokal, hingga perangkat desa turut dilibatkan dalam pertemuan tersebut.

Kepala Desa Toto Projo menyampaikan kebutuhan pembangunan sumur bor yang dilengkapi selang di sejumlah lokasi yang dinilai rawan kebakaran.

Menurut warga, upaya pencegahan karhutla perlu diikuti dengan kesiapan peralatan di lapangan. Penyuluhan dinilai penting, tetapi masyarakat juga membutuhkan sarana yang memungkinkan penanganan api dilakukan secepat mungkin ketika kebakaran terjadi.

Ketersediaan sumber air dan peralatan pemadam menjadi salah satu kebutuhan utama, terutama untuk menghadapi kebakaran yang terjadi di kawasan hutan atau lahan yang sulit dijangkau.

Dialog tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam penanganan karhutla. Warga yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian dinilai dapat menjadi bagian dari sistem deteksi dan penanganan awal.

Pendekatan langsung Tim KKL Seskoad mendapat apresiasi dari masyarakat dan unsur Forkopimda Lampung Timur. Kehadiran para Pasis di tengah warga dinilai membuka ruang komunikasi yang lebih luas untuk membahas persoalan secara langsung.

Tak hanya membahas persoalan karhutla, para Pasis juga ikut dalam kegiatan sosial bersama masyarakat. Di sela agenda KKL, mereka bergotong royong membersihkan tempat ibadah dan masjid di lingkungan warga.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan antara TNI dan masyarakat. Bagi Tim KKL Seskoad, berbagai persoalan di daerah tidak cukup hanya dipahami melalui data dan laporan, tetapi perlu dilihat secara langsung dari kondisi serta kebutuhan masyarakat.

Melalui dialog dan pengumpulan data di lapangan, berbagai masukan warga diharapkan dapat menjadi bahan dalam merumuskan langkah penanganan karhutla yang lebih efektif, terutama dalam memperkuat kesiapsiagaan di tingkat masyarakat.

(Egi)