Menggugat Empati Lewat Panggung: Festival Teater Pelajar Jabar Jadi Jembatan Menuju Kurikulum

Avatar photo

Tim Halo Bekasi - Admin

, 19 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Menggugat Empati Lewat Panggung: Festival Teater Pelajar Jabar Jadi Jembatan Menuju Kurikulum

Bekasi, HeloBekasi.com – Di tengah gempuran arus informasi digital yang kerap kali memicu polarisasi dan narasi kebencian, seni pertunjukan kembali ditagih perannya sebagai filter moral bagi generasi muda. Komunitas Kang Dedi Mulyadi (KDM) Nusantara mengambil langkah konkret dengan menggelar Festival Teater Pelajar Tingkat SMA/SMK se-Jawa Barat.

Inisiatif ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan respons strategis terhadap wacana Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, yang berencana memasukkan teater sebagai bagian integral dari kurikulum pendidikan menengah atas di Tanah Pasundan.

Ketua Umum KDM Nusantara, Mursali Bachtiar, menegaskan bahwa festival ini adalah batu loncatan pertama menuju implementasi kebijakan "Teater Masuk Sekolah". Pengumuman tersebut disampaikan usai rapat pembentukan panitia di Kraton Salamiring, Kampung Budaya Kranggan, Kota Bekasi, pada Selasa (18/8).

"Program ini lahir dari momentum Milangkala Tatar Sunda di Gedung Sate Bandung Mei lalu. Kami ingin membuktikan bahwa teater bukan sekadar hiburan, tetapi media edukasi karakter," ujar Bachtiar.

Panggung Tanpa Biaya, Hadiah Berupa Prestasi

Festival yang dirancang inklusif ini terbuka bagi seluruh siswa SMA dan SMK di Jawa Barat tanpa dipungut biaya sepeser pun. Rangkaian acara akan berlangsung dalam tiga tahap: babak penyisihan pada awal November 2026, semi-final pada Januari 2027, dan puncak final yang dijadwalkan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2027.

Para pemenang tidak hanya membawa pulang trofi, tetapi juga hadiah uang pembinaan sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas mereka. Bagi Bachtiar, aksesibilitas adalah kunci. Seni harus dapat dinikmati dan dipraktikkan oleh semua kalangan, tanpa terkendala hambatan ekonomi.

Seni sebagai Antidot Radikalisme

Menariknya, festival ini mendapat dukungan penuh dari kalangan pers. Ismail Lutan, Pimpinan Umum parahyangan-post.com yang turut bergabung dalam kepanitiaan bidang publikasi, melihat urgensi teater di era disrupsi informasi.

Bagi Ismail, seorang jurnalis veteran yang pernah malang melintang di Grup Pikiran Rakyat pada era 1990-an, teater berfungsi sebagai "alat saring" yang efektif dan tanpa bias.

"Di tengah derasnya narasi kebencian, pelajar membutuhkan filter. Teater mengajarkan mereka untuk memahami perspektif orang lain, berempati, dan berpikir kritis sebelum bertindak. Ini adalah benteng pertahanan mental," kata Ismail.

Ia menilai, kebijakan memasukkan teater ke dalam kurikulum adalah langkah progresif. Melalui proses kreatif berteater, siswa tidak hanya mengasah kemampuan artistik, tetapi juga membentuk karakter yang santun, peka sosial, dan beradab.

Menghidupkan Kembali Filosofi Sunda

Lebih dalam lagi, festival ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal yang kian terkikis. Ismail menekankan bahwa melalui teater, pelajar Jawa Barat diajak untuk meresapi filosofi luhur Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh—saling mendidik, saling mencintai, dan saling menjaga.

"Teater adalah ruang dialog. Di sana, kita belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan kekayaan untuk saling melengkapi. Inilah esensi dari Tanah Priangan yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya," tutup Ismail.

Dengan adanya festival ini, harapan besar tertumpu pada panggung-panggung sekolah di Jawa Barat: bukan hanya melahirkan aktor-aktor handal, tetapi juga warga negara yang memiliki kepekaan hati dan ketajaman nalar.* (Egi)