HUT RI ke-81 di Jatisampurna: Dari Upacara Khidmat Hingga Pesta Rakyat Berbalut Aroma Dodol dan Umbi-umbian

Avatar photo

Tim Halo Bekasi - Admin

, 17 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

HUT RI ke-81 di Jatisampurna: Dari Upacara Khidmat Hingga Pesta Rakyat Berbalut Aroma Dodol dan Umbi-umbian

Bekasi, HaloBekasi.com – Suasana berbeda terasa di Stadion Mini Jatisampurna pada Senin (17/8/2026). Tidak hanya sekadar upacara bendera, peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di kecamatan ini berubah menjadi pesta rakyat yang hangat, di mana khidmatnya upacara berpadu dengan meriahnya arak-arakan hasil bumi.

Setelah rangkaian upacara bendera usai dengan lancar, ribuan warga yang tumpah ruah tidak langsung membubarkan diri. Sebaliknya, mereka justru semakin antusias menyaksikan puncak acara: pawai budaya dan penyerahan seserahan dari masyarakat kepada aparatur kecamatan.

Camat Jatisampurna, Nata Wirya turut didampingi Danramil 02 Pondok gede Mayor Inf. Fajar Fitrianto bersama Kapolsek Jatisampurna Iptu Mursanif, serta jajaran Lurah dan aparatur pemerintah larut dalam suasana keakraban. Ia mengungkapkan kebahagiaannya karena bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama warga, sebuah momen langka bagi seorang camat yang biasanya memiliki jadwal padat keliling kecamatan.

"Alhamdulillah hari ini saya bisa fokus di Jatisampurna untuk upacara penurunan bendera. Jadi, saya bisa berlama-lama bersilaturahmi, menerima aspirasi, dan tentu saja menikmati hidangan khas dari warga," ujar Camat Nata.

Aroma Tradisi di Tengah Perayaan Modern

Yang membuat perayaan tahun ini istimewa adalah kehadiran berbagai jenis makanan tradisional yang diarak oleh tokoh masyarakat, sesepuh, dan para Ketua RW. Mulai dari tumpeng nasi, kelapa muda, ayam kampung, dodol legit, hingga pisang, semuanya disajikan sebagai bentuk apresiasi warga.

Namun, sorotan utama tertuju pada gerobak-gerobak kecil yang membawa aneka umbi-umbian. Bagi Camat Nata, ini bukan sekadar pelengkap pesta, melainkan simbol sejarah yang hidup.

"Ini hal yang sangat unik. Mungkin hanya di Jatisampurna tradisi seperti ini masih terjaga di antara 12 kecamatan lainnya," katanya sambil menunjuk tumpukan singkong dan ubi jalar yang dibawa warga.

Lebih dari Sekadar Makanan, Ini Adalah Sejarah

Camat Nata Wirya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memahami makna di balik umbi-umbian tersebut. Ia menceritakan kembali kisah masa lalu saat masa penjajahan Belanda dan Jepang, di mana beras merupakan barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu.

"Dulu, warga miskin di perkampungan bertahan hidup berkat umbi-umbian yang mereka tanam sendiri. Itu adalah tulang punggung ketahanan pangan kita di masa sulit," jelasnya.

Melalui arak-arakan ini, Pemerintah Kecamatan Jatisampurna berharap tradisi tersebut terus dilestarikan. Bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga sebagai pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan akar sejarah dan perjuangan nenek moyang dalam memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.

"Hari ini kita makan bersama, menikmati hasil bumi sendiri. Ini adalah cara kami menghormati sejarah tanpa melupakan identitas kita sebagai masyarakat Jatisampurna," tutup Camat Nata.

Perayaan HUT RI ke-81 di Jatisampurna pun berakhir dengan kesan mendalam: bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang seremonial bendera, tetapi juga tentang kebersamaan, rasa syukur atas hasil bumi, dan ingatan kolektif akan perjuangan masa lalu.*

Editor: Egi Adetya