Tri Adhianto Bakal Berkantor di RW Mulai 2027, Rp100 Juta per RW Didorong Tepat Sasaran

Avatar photo

Tim Halo Bekasi - Admin

, 19 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Tri Adhianto Bakal Berkantor di RW Mulai 2027, Rp100 Juta per RW Didorong Tepat Sasaran

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat menghadiri Forum Dialog Implementasi Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia di RW 24, Kemang Pratama, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu. Sabtu (19/9/26

Bekasi, HaloBekasi.com — Wali Kota Bekasi Tri Adhianto berencana mulai berkantor di lingkungan Rukun Warga (RW) pada Januari 2027. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendekatkan pelayanan sekaligus memastikan pembangunan di tingkat lingkungan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Rencana itu disampaikan Tri saat menghadiri Forum Dialog Implementasi Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia di RW 24, Kemang Pratama, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu. Sabtu (19/9/26) . Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa pembangunan Kota Bekasi harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di setiap lingkungan.

Menurut Tri, setiap RW memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Ada wilayah yang membutuhkan perbaikan infrastruktur, penanganan drainase dan jalan lingkungan, sementara wilayah lainnya membutuhkan penguatan pemberdayaan masyarakat serta kegiatan ekonomi warga.

“Mulai Januari 2027, saya berencana berkantor di RW-RW. Kita ingin melihat, mendengar dan mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai pemerintah membuat program, tetapi ternyata tidak menjawab persoalan yang dihadapi warga,” ujar Tri.

Kebijakan tersebut juga dikaitkan dengan program Lingkar Keren atau Lingkungan Masyarakat Kota Bekasi Keren, yang mengalokasikan anggaran Rp100 juta untuk setiap RW. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung pembangunan lingkungan sekaligus kegiatan pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

Tri menilai pengurus RW memiliki peran penting karena bersentuhan langsung dengan persoalan warga sehari-hari. Karena itu, usulan pembangunan diharapkan tidak sekadar menjadi daftar kebutuhan, tetapi disusun berdasarkan skala prioritas dan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat melalui semangat gotong royong menjadi bagian penting agar program yang dijalankan dapat memberikan manfaat sekaligus dipelihara secara bersama-sama.

Dalam forum tersebut, Tri turut mengaitkan pembangunan lingkungan dengan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, persatuan, kepedulian dan gotong royong dapat diwujudkan melalui keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan serta menyelesaikan berbagai persoalan secara bersama.

Melalui rencana berkantor di RW dan penguatan program Lingkar Keren, Pemerintah Kota Bekasi ingin memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat. “Prinsipnya sederhana, kita datang, kita dengarkan, kita lihat persoalannya, lalu kita cari jalan keluarnya. Pembangunan harus dirasakan masyarakat sampai ke lingkungan tempat mereka tinggal,” pungkas Tri. ( Eg@)